WIND

Hi, guys...
sudah lama nih nggak buka blog. kali ini hun akan menulis lagi. huft, rasanya rindu sekali. hal baru akan dimulai.
cerita ini, mungkin akan sangat panjang. semoga kalian menikmati cerita ini...

Matahari bangun dari duduknya. Aku bangkit dari meluruskan kedua kaki bersama sahabat sahabatku, pelajaran olahraga kami sudah usai. Seperti biasa, semua membubarkan diri seperti burung dara yang berterbangan ketika kaki manusia menghampiri. Lelah juga tak bisa dihindarkan, keringat sudah pasti seperti gerimis dimalam hari setelah sekian lama kekeringan.
Ketika perjalanan menuju kelas, dari arah lapangan melewati Musholah sekolah mataku tertuju pada musholah yang bertembokan kaca. Kudapati seorang laki laki berseragam SMP itu sedang membungkukan badannya sambil memegang lutut dan menghadap kearah Tuhan. Lalu kuperhatikan kanan, kiri, depan, dan belakangku. Hanya heran saja, tidak ada penghuni dimusholah itu kecuali dia, teman teman smpnya termasuk teman teman ku sedang asyik sendiri dengan permainan dan tawa mereka. Seorang sahabat menepuk pundakku sambil berkata,
“Apa yang sedang kau lihat? Kenapa berhenti?”
“Tak apa, hanya heran saja melihat dia”
Akupun melanjutkan perjalananku. Beberapa hari selanjutnya, tepat di acara Isra’ Mi’raj, ketika itu sekolah ini mengadakan fashion show, tanpa sengaja mata ini tertuju pada tangga panggung yang baru saja dilewati laki laki berjaket berkaos garis itu. Aku terkejut melihat dari kejauhan raut wajah yang sama yang kutemui tempo lalu. Ya, itu dia, ternyata dia adalah orang sama yang sudah berhasil menyita pandanganku untuk kedua kalinya.
Beberapa hari sesudah itu, sahabatku menghampiriku
“Ren, perihal laki laki itu”
“Kenapa?”
 “Ternyata namanya, Yusuf, dia mondok di deket sini.”
“Oh ya?”Aku hanya senyum senyum sendiri saja.
Sahabat sahabatku lama kelamaan memberi simpulannya, bahwa aku menyukainya.
Aku sempat minder. Karena mendengar latar belakang Yusuf itu, aku sadar, aku bukan siapa siapa. Aku hanya gadis desa, bukan anak bangsawan, Kyai, atau santri. Setiap hari mereka menggangguku dengan candaan candaan mereka tentang Yusuf, dan aku tentu sangat malu. Aku tidak pernah bisa memandang dia yang kucinta dengan langsung, mungkin aku akan kabur saat dia lewat. Ini konyol, tapi itu kenyataannya, aku ini Rena Annisa yang memang orang yang penakut dalam hal cinta.
Entah kenapa, aku jadi sering ke Musholah untuk sholat dhuha, mungkin ada maksud biar ketemu Yusuf,  kata sahabat sahabatku. Tak hanya itu, Yusuf juga membuatku lebih mengenal Tuhan, aku yang tak begitu dalam tentang agama mencoba memahami agama, shalat tahajud, mengaji, dan merasa tenang dengan agamaku. Meskipun kami tidak pernah saling kenal. Mendengar suaranya saja aku tidak pernah.
            Kami pun menuju rumah Tuhan. Hampir setiap hari itu kami lakukan. Hampir setiap hari pula aku melihat Yusuf. Niat konyol itu tiba tiba menjadi kebiasaan kami berenam. Ada atau tidak adanya Yusuf, kami pada akhirnya menjadi gadis yang kebiasaannya nongkrong di Musholah sekolah.
            Hari selanjutnya, mereka menertawakanku. Teman teman sekelasku menertawakan ku yang tiba tiba berubah menjadi agak lebih anggun. Mengurai rambut yang ternyata ketahuan sebahu dengan bando dikepala.
            Hari selanjutnya, selepas ujian sekolah, ketika aku baru saja tahu betapa menyedihkannya ujian teori komputerku, aku sangat kaget. Lemas, ingin sekali jatuh rasanya. Tak sanggup lagi berdiri. Hanya bisa berjalan dengan menyeret kaki. Dari agak jauh sedikit, terlihat seorang laki laki berdiri didepan pintu kelas menghadap kolam ikan dekat kelas. Langsung badan ini terasa sangat tegap.
            Beberapa bulan selanjutnya, selepas ujian Sekolah semester 2 kelas 9 smp, aku berjalan menuju parkiran sepeda, tiba tiba seorang teman yang beda kelas menghampiri dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
            “Rena ya? Yang sabar ya.” Tanya Dewi
            “Lho kenapa ya?”
            “Yusuf. “
            “Kenapa Yusuf? Kok bilang tentang Yusuf ke aku ya? Kan aku bukan siapa siapanya.”
            “Tadi waktu dikelas, ehm,,aku nggak enak sama kamu. Yusuf ada pacar di SMP sebelah”
            Perasaanku tentu sangat hancur saat itu juga. Menyukai seseorang diam diam tanpa mencoba mengenal atau berbicara dengannya tiba tiba mendapat kabar mengejutkan yang mematahkan hati itu hal yang luar biasa bagiku. Mencoba menahan agar mata ini tidak hujan . pantang bagiku untuk melakukannya.
            Sesampai ditempat parkir, entah kenapa mata ini mulai gerimis. Satu mata sudah meneteskan. Mataku sudah mengembun. Tak kuasa menahan rasa kaget dan jatuh karena itu. Ini hal menyebalkan yang kurasa. Jika Yusuf selalu menjadi tawaku, entah mengapa kali ini ia penyebab tangisku.
            Seiring berjalannya waktu aku mencoba menutup dalam dalam kisah tentang Yusuf dalam hidupku. Mencoba lebih fokus pada masa depan.
Namun tak sedikit kabar yang kawan kawan sampaikan mengenai Yusuf. Aku seakan tidak percaya. Yusuf yang aku anggap adalah malaikat yang mengubah hariku ternyata seperti yang mereka katakan. Mereka bilang, dia babak belur karena berantem. Dia beranten gara gara cewek. Dia ngrokok. Gonta ganti pacar. Dia selalu nongkrong diwarung dekat sekolah sama teman teman yang ngrokok, tukang berantem, dan minum dan aku mulai sedikit percaya pada ucapan teman temanku. Melihat tingkah Yusuf yang seperti itu aku kaget. Yusuf yang sudah mengubah hidupku lebih mengenal Tuhan ternyata dia sedang kacau. Tapi satu hal yang aku yakini, kurasa dia sedang mengalami masalah besar yang membuatnya berubah total.
            Ketika bimbingan dan tambahan pelajaran sebelum Ujian Nasional, setelah 2 kali try out, Try out ketiga aku mengalami penurunan hingga aku terkejut melihat papan pengumuman bertuliskan namaku yang ternyata aku satu kelas dengannya. Selama ini setelah sekian lama aku tak pernah sedikitpun tapi Tuhan mendekatkanku ditengah niatku yang ingin menjauh darinya.
            “ Ren, kita sekelas sama Yusuf” ucap Fira
            “ Itu dia, aghh sial. Sama Juno lagi. Kebayang nggak sih sekelas sama Juno temen Yusuf yang juga sama sama tahu kalau aku suka Yusuf dari dulu. Hmm hancur aku.”
Hari Pertama kelas. Tingkah Juno sudah menguras tenaga untuk ketawa. Dalam kelas itu pada akhirnya aku tahun bahwa ternyata Yusuf sudah tahu bahwa dia kupanggil Chunchu dan aku menyukainya. Tentu aku tetap mencoba cuek. Tapi Juno selalu saja menggoda. Ketika itu pelajaran Matematika, Pak Sarmin menerangkan tapi aku dan Fira tertawa karena ulah Juno.
Waktu semakin berlalu. Ujian sudah berhasil dilewati. Kata Purnawiyata pun terdengar ketelingaku. Aku sedikit bahagia karena setidaknya aku akan mendengar sedikit suara Yusuf ketika purnawiyata nanti. Yusuf sang vokalis band yang kunanti nanti selama ini.
            “ Ren, wah Yusuf ntar nyanyi kayaknya.” Ucap Nina
            “ He’em. Pokoknya ntar kita duduknya sama sama”
            “ Iya Ren, jangan lupa lho.” Ucap Aina dan Fira
            Beberapa hari sebelum Purnawiyata, hatiku terpukul kembali. Tepat hari, tanggal yang sama aku harus menjalani interview di sebuah SMK . sebuah pilihan yang luar biasa menurutku. Disisi yang satu aku harus menjalani interview dan disisi lain aku sangat ingin melihat Yusuf yang terakhir sebelum benar benar jauh dan mendengar suaranya sekali saja. Aku merasa Tuhan benar benar tidak ingin aku mengenal Yusuf. Lalu kenapa Tuhan membiarkan mataku melihatnya waktu itu.
            Setelah saat itu aku tak pernah melihat Yusuf. Tahun semakin bertambah, hingga pada akhirnya aku duduk dibangku kuliah. Sedari SMP hingga kuliah aku serasa benar benar lupa pada chunchuku Yusuf.
Pagi itu saat aku bersiap siap berangkat ke kampus, ada pesan dari mbk Nina yang sedikit membingungkanku dan mengejutkanku. Sebuah pesan atas meninggalnya seseorang.
“Astaghfirullah, keluarga Yusuf? “ karena buru buru berangkat aku tak menelaah isi dari pesan itu.setiba dikampus tiba tiba aku serasa flashback kemasa smp. Aku bercerita tentang chunchu pada teman dekatku dikampus. Termasuk pesan singkat dari mbak Nina.
Aku tertawa karena mengingat peristiwa lucu yang aku ceritakan. Tiba tiba satu teman laki lakiku datang.
 “Siapanya yang meninggal? Bapak, ibu?”
“Kamu ini gimana sih Ren, yang meninggal itu Yusuf.” Aku terpaku dan sedikit tidak percaya.
“Apa? Yu Yusuf? Nggak mungkin. Aku ndak percaya.”
Aku terdiam, hanya terdiam. Lalu air mataku jatuh. Aku tidak kuat rasanya. Teman temanku langsung memelukku dengan erat sambil menasehatiku. Aku merasa ini begitu luar biasa. Yusuf yang aku cintai sudah bersama Tuhan. Meninggalkan dunia ini, tanpa sekalipun aku mendengar suaranya. Cinta apa ini. Aku selalu merasa Tuhan memberiku banyak pelajaran luar biasa.
Keesokan harinya, seorang teman mengajakku kerumah Yusuf. Tanpa pikir panjang aku menerima ajakannya. Setelah kumpul di acara rapat organisasi, aku langsung berangkat kesana. Berangkat dengan empat orang, pertama kalinya aku menginjakan kaki dirumah Yusuf. Ini sedikit konyol. Aku bukan siapa siapanya, tapi sungguh pernah ada rasa sangat mencintai dalan hatiku untuknya, tanpa mengenal, mendengar suaranya, tapi aku berbincang dengan ibundanya.
“Ibu maaf, kenapa bisa Yusuf bisa kecelakaan di jam seperti itu?”
“Yusuf akan pulang ke Jombang nak, karena biasanya dia titipkan motornya lalu berangkat dengan bis”
“Apa Yusuf berkata sesuatu bu?”
“ Iya, pagi sebelumnya, dia menelfon ibu. Dia meminta maaf, benar benar meminta maaf, selama ini banyak salah sama mama, menanyakan kabar mama, papa, adik.” Jelas ibu Yusuf sedikit menangis.
“Yusuf itu pintar, dia sudah jadi asisten dosen di universitasnya sana. Dia suka berdebat dengan dosennya. Sampai dosennya kehabisan kata kata, sampai akhirnya dia diangkat jadi kepercayaannya. Yusuf sangat aktif mbak sama organisasi. Kemarin pihak ikatan mahasiswa kota sama kampus pada kesisini. Kemarin dia IP nya sempurna. Kakak angkatan yang udah mau lulus itu sering menghubunginya meminta pekerjaan, karena Yusuf sangat dekat dengan berbagai channel.”
“Bu, Yusuf benar benar mencintai hukum ya?”
“Iya mbak, dia benar benar suka hukum dari dulu, buku buku tentang hukum itu sudah dia kuasai. Uang kirimannya masih utuh 18 juta. Dia kemarin telfon, ma maaf Yusuf hanya makan tahu tempe, kasian teman Yusuf, Yusuf temani mereka ya. Saya bilang, ndak apa nak asal Yusuf sehat. Yusuf benar benar luar biasa dimata kami mbak.
“Subhanallah, Ya Allah, Engkau panggil dia yang luar biasa indah ini. Ternyata sungguh luar biasa sekali Yusuf. Ini jawabannya. Aku tak pernah ragu. Cintaku tak salah Tuhan. Meski aku tidak pernah tau kenapa aku menyukainya, tapi inilah kenyataannya. Dia hebat. Meski pernah kelam, tapi dia tetap indah.” Ucapku dalam hati.
“Ya sudah bu, kami harus pamit ke makam Yusuf.” Ucap Tedy.
 “Sabar, kuat bu, ibu kuat.” Kupeluk ibunya.
            “Iya mbak InsyaAllah. Terima kasih”
            Kami pun menuju makam Yusuf. Kami bertemu teman teman Yusuf. Lalu kami berjalan melewati satu persatu nisan. Hingga akhirnya kami tiba pada satu nisan yang tanah masih meninggi dengan janur disisinya, dan bertuliskan nama Yusuf. Disitu hatiku hancur.
             “Tuhan, benar, ini dia. Yusuf Ya Allah.” Kataku dalam hati.
            Setelah dari makam, aku menyadari bahwa kenapa Tuhan tidak pernah menyatukan kami. Karena Yusuf hanyalah angin. Angin Tuhan yang menyapaku, yang tidak akan pernah jadi udara bagiku. Yang dating lalu akan pergi. Agar hatiku tidak semakin hancur, Tuhan berikan kisah ini padaku. Agar aku semakin kuat dan tangguh, agar aku semakin yakin pada hatiku, perasaanku, cita cita dan harapanku. Yusuf tetap menjadi sejarah bagiku. Yang tetap tidak bisa dilupakan. Inilah scenario Tuhan untuku. Satu hal yang membuatku semakin takjub pada cintaku itu, pada Yusuf yang berpesan di saat terakhir yakni ,
            Aku tidak mau berlarut dalam kesedihan kehilangan. Yusuf semakin membuatku lebih baik dan semangat untuk segera lulus, menekuni bidangku, meneruskan s2, berbicara poltik, bermasyarakat, dan menjalani organisasi yang aktif sama seperti Yusuf yang selalu menjadi bintang dimana ia berdiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KADO MILIK CAHAYA